Ini hanya sebuah catatan perjalanan seorang pekerja lapangan..

16 Mei 2016 siapa sangka saya dapat melakukan perjalanan jauh ke bagian Indonesia yang belum sempat terpikirkan, tp ini semua karna tugas & akan kembali karna rasa sayang (kangen).

Perjalanan sama dimulai dari Jakarta lewati melalui udara Soekarno Hatta. Perjalanan dari Jakarta ke lokasi transit memakan waktu kurang lebih 1 jam 7 menit (tanpa ada perbedaan waktu), setiba disana perjalanan dilanjutkan menggunakan pesawat perintis jenis ATR72. Dan sepertinya maskapai lainnya perjalanan sempat tertunda sekitar 45 menit dari jadwal karna terkendala cuaca buruk hujan dan saya tidak berani menyalahkan maskapai karna ini faktor alam, siapa jg berani melawan alam. Ok, waktu menunjukan pukul 09.25, ATR72 siap membawa saya & sekitar 50 penumpang lainnya meluncur menuju bumi ale-ale. saya tiba di terpencil ini pukul 10.10 menit, dan baru keluar bandar jam 10.20 karna harus menunggu bagasi yg isinya peralatan perang (Tang cripping, Tester, patch panel, RJ, obeng full set & pisau kesayangan Swiss Army).
Setibanya di bumi Ale-ale, saya langsung menuju booth taksi tuk menuju lokasi kerja, dengan ongkos Rp.80rb (tanpa Argo) cukup antar saya ke lokasi (karna sempat terjadi tawar menawar), dan akhirnya siap kerja sampai lupa belum pesan hotel. Sang client selaku owner merekomendasikan ke Aston, ok lah saya coba call aston, dan sempat terjadi tawar menawar diskon dg mba receptionist di seberang telp, akhirnya saya menyerah dari harga hampir 600Rb per malam menjadi 350Rb per malam (tanpa breakfast) *dalam pikiran, gampang lah sarapan bisa cari diluaran. Sampai akhirnya check in hotel pukul 18.30.. lega akhirnya bisa dpt kamar ga perlu gelar SB/tenda…hehehehe.

Menjelang malam, owner chat menginformasikan kalau makan malam kabari biar bisa diantar & jalan2 malam, dan benar saya seketika itu langsung saya bergegas bersih2 ga menyia-nyiakan waktu & kesempatan yg ada langsung cus nyari kuliner.

Ada 1 yg spesial dilokasi ini yaitu Keraton Matan, keraton yang menyimpan sejarah perjalanan, perkembangan agama itu menjadi bukti bahwa warga setempat menjunjung tinggi norma-norma agama. Namun berkunjung ke bumi ale-ale malam hari benar-benar membuat saya terheran-heran. Bagaimana tidak, kabupaten dengan sejarah kerajaan cukup tua di provinsi ini ternyata menyimpan wisata malam yg terbuka.

Perjalanan kali ini adalah yang pertama bagi saya. Maka wajar saja, jika berbagai pertanyaan muncul mengenai seluk beluk bumi ale-ale. Hingga akhirnya saya benar-benar dikejutkan dengan cerita mengenai kawasan prostitusi yang keberadaanya seperti dilegalkan.

Rangge Sentap nama kawasannya. Sebuah komplek rumah toko (ruko) di Jalan Imam bonjol itu ternyata tempat lokalisasi terbesar. Setiap ruko berisi lebih dari lima wanita yang siap menggoda pengunjung yang datang. Siapa sangka diwilayah ini kalau pagi adalah pasar ikan namun jika malam menjadi pasar wanita. Bangunan ruko berlantai dua itu yang dulunya merupakan pasar ikan sudah berubah wajahnya. Ruko-ruko itu ditata sedemikian rupa sehingga lebih mirip seperti diskotik dengan alunan musik menghentakkan telingga pandangan mata dibuat terbatas karena kelap kelip lampu berwarna. Setiap yang datang sudah dapat dipastikan akan terlena dengan kenikmatan sesaat yang ditawarkan para wanita penghibur.

Sang owner pun sempat mencoba untuk singggah sejenak di salah satu kafe. Saat mobil yang ditumpangi berhenti tak jauh dari kafe, panggilan abang sayang pun keluar dari seorang wanita berambut sebahu. “Singgah dulu lah bang,” kata seorang wanita bernama Dahlia (bukan nama sebenarnya).

Dahlia adalah mami dari 12 orang pekerja seks komersial di kafenya. Para wanita penghibur itu dianggap sebagai anaknya yang akan ditawarkan kepada lelaki hidung belang. “Liat-liat dulu bang, kami ini hanya cari makan,” ucapnya merayu berharap saya dan beberapa teman turun.

Belasan wanita penghibur yang berpakaian menggoda itu duduk manis menunggu waktu melayani permintaan pelanggannya. “Mau umur yang 19 tahun ada, di atas itu juga ada. Kalau yang janda saya kasih harga Rp500 ribu saja,” Dahlia mencoba menawarkan.

Dengan membayar Rp500 ribu pengunjung mendapat satu wanita yang bisa dipilih dengan kamar yang disediakan sehingga tak perlu repot-repot
atau merogoh kocek dalam untuk menyewa kamar hotel.

Menurut sang owner hampir sepuluh tahun kawasan yang semestinya menjadi pasar ikan itu menjadi kawasan prostitusi. Masyarakat pun merasah resah dengan aktivitas hiburan malam di sana karena tentu akan merusak citra daerah yang memiliki sejarah kental keagamaan, dikhawatirkan dapat meracuni anak-anak.

Aneh memang, dari pasar menjadi tempat hiburan malam, tapi hal ini tak jauh beda dengan kawasan tanah abang di Jakarta.

Keberadaan lokalisasi ini terkesan dibiarkan tanpa adanya tindakan tegas pemerintah dikhawatirkan akan merusak generasi Ketapang yang diharapkan menjadi calon-calon pemimpin masa depan. Sepanjang mata memandang di tempat itu semua orang bisa datang tanpa memandang apakah anak atau orang dewasa, walau beberapa tempat tidak jauh dari pos polisi.

Jika tempat tersebut terus dibiarkan makan akan banyak dampak buruk yang ditimbulkan, mulai dari rusaknya moral hingga rentan dengan penyebaran penyakit.

Pesan saya cuma “Sudah saatnya kawasan ini dikembalikan fungsinya seperti semua. Jangan biarkan prostitusi bebas beraktivitas”. Tindakan tegas pemerintah & aparat serta dukungan Masyararat dr berbagai golongan diperlukan untuk melakukan perubahan ini..

Menurut kabar, Bpk Presiden Jokowi akan berkunjung tuk meresmikan salah satu perusahaan tambang asal china dalam beberapa minggu kedepan.

Smoga Bumi Ale-ale bebas dr maraknya “wisata malam”