Tuli Mengancam Kaum Muda

Menurut penelitian, ketulian menyerang orang makin dini. Penyebabnya adalah gaya hidup modern, seperti mendengarkan musik melalui earphone.

Kebiasaan mendengarkan musik dengan alat yang langsung disumpalkan ke telinga (earphone) yang menjadi tren di kalangan anak muda masa kini. Apalagi lingkungan sekarang tak bebas dari kepungan suara bising: rumah dengan suara berbagai peralatan elektronik, jalan raya yang penuh kendaraan bermotor, tempat-tempat hiburan dengan musik keras, dan pabrik yang penuh geraman mesin.

Menurut hasil penelitian Jenny Bashiruddin, yang juga ahli THT, efek bising ini memang luar biasa. ¨Tak ada yang menyadari, misalnya, pusat permainan anak-anak di mal juga sumber bising berbahaya, karena tingkat kebisingannya mencapai 90-95 desibel,¨ kata Jenny, yang melakukan penelitian efek bising di berbagai tempat selama 2007.

Dengan tingkat suara setinggi itu, anak-anak seharusnya hanya boleh tinggal satu-dua jam. Jika lebih lama dari itu, akan terjadi kelelahan koklea(rumah siput), yang berperan penting dalam proses pendengaran. Kelelahan koklea yang terjadi terus-menerus dan tak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap. Menurut Jenny, makin sering dan lama diserbu kebisingan, makin cepat berkurang masa seseorang mampu mendengar secara normal.

Alhasil, tuli pun makin dini menyerang orang.

Para ahli kesehatan di sana memperkirakan anak-anak iPod generation ini bakal lebih awal mengalami presbiakusis (tuli karena usia lanjut), yakni pada usia 40-an tahun. Padahal, secara normal, pengurangan kualitas pendengaran baru terjadi saat menginjak usia 60-70 tahun. Kondisi Indonesia pun tidak jauh berbeda. Apalagi makin banyak saja orang wira-wiri dengan kabel bersumpal ¨tertancap¨ di telinga.

Masalahnya, kebisingan belum dianggap sebagai ancaman serius. Bising malah dianggap keren.. Beberapa aktivitas kehidupan modern identik dengan kebisingan. Konser-konser musik digelar dengan sound system makin canggih.

Tengok juga sejumlah kafe dan diskotek serta berbagai tempat nongkrong anak muda yang bertebaran di penjuru kota . Juga jalan raya yang makin semrawut dan bising. Itu semua masih ditambah dengan hobi mendengarkan musik dengan earphone. Sepertinya, makin bising makin keren. Tapi, jika sudah tuli,pasti tidak lagi keren.

Suara Mengalir Sampai Jauh

1.Saat suara masuk, tulang-tulang pendengaran bergetar.

2.Suara lalu diteruskan ke koklea (rumah siput), yang terletak di bagian tengah telinga.

3.Pada koklea terdapat sel-sel rambut yang berfungsi menangkap rangsangan atau frekuensi suara.

4.Sel rambut juga berfungsi mengubah energi akustik menjadi rangsang listrik untuk dapat diteruskan ke pusat persepsi pendengaran di otak..

Suara berfrekuensi lebih dari 80 desibel dapat membuat sel-sel rambut mengalami kelelahan.

*Sel-sel rambut yang sering lelah lama-kelamaan rusak.

*Kerusakan pada sel rambut menyebabkan terganggunya proses mendengar.

Akibatnya, terjadi penurunan fungsi pendengaran.

*Pada awalnya, penurunan fungsi pendengaran hanya bersifat sementara,

tapi bila paparan bising berlangsung terus, kerusakan akan permanen.

Batas Intensitas Kebisingan

Lama Pemaparan

Ruangan tenang: 30-40 desibel

80 dB

16*

Percakapan normal: 65 desibel

85 dB

8*

Pengisap debu, televisi: 60-70 desibel

90 dB

4*

Walkman/iPod: 96 desibel

95 dB

2*

Arena bermain anak di mal: 90-95 desibel

100 dB

1*

Diskotek atau klub malam: 100-120 desibel

105 dB

1/2*

Orkes simfoni: 110 desibel

110 dB

1/4*

Konser musik: rock 110-140 desibel

115 dB

1/8*

*Lama pemaparan tiap hari (jam)

Sumber : majalah Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s